Waspada, Pernikahan Sedarah Bisa Sebabkan Penyakit Langka



HARI Penyakit Langka Sedunia jatuh pada 28 Februari setiap tahunnya. Saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan lebih tentang penyakit langka ini. Gejala yang mirip dengan penyakit lain, membuat para dokter sulit untuk mendiagnosis penyakit langka di Indonesia.

Menurut data yang diperoleh, sekira 10 persen dari populasi di Indonesia terjangkit penyakit langka. Indonesia dihuni oleh 250 juta penduduk, alhasil sekira 25 juta orang mengidap penyakit langka.

Sebagaimana diketahui, ada lebih dari 7000 penyakit langka, beberapa penyakit langka di Indonesia adalah Lysosomal Storage Disorder, Pompe Disease, Mukopolisakaridosis, Gaucher dan masih banyak lainnya.

Menurut Dokter bagian Nutrisi dan Penyakit Metabolik RSCM, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (K), penyakit langka timbul bukan karena pengaruh iklim. Penyakit langka disebabkan oleh faktor genetik salah satunya adalah pernikahan sedarah.

Baca Juga:

Intip Gaya Pedangdut Cupi Cupita si Goyang Basah, Seksinya Kebangetan!

6 Gaya Rambut Fenomenal Syahrini, Nomor 5 yang Bikin Reino Barack Kepincut?

“Iklim tidak berpengaruh. Bisa kebetulan dua orangtuanya yang masih saudara menikah dan berisiko besar terkena penyakit langka. Tapi tak menutup kemungkinan melakukan pernikahan diluar saudara tidak berisiko,” ucap dr Damayanti, saat diwawancarai Okezone beberapa waktu lalu.

Dokter Damayanti mengaku kerap menerima diagnosis dari berbagai daerah di Indonesia mengenai penyakit langka. Namun, pengetahuan dokter yang minim tentang penyakit langka, masih menjadi masalah besar yang harus dipecahkannya saat ini.

“Papua belum ada orang. Ujung Pandang, Makassar, Malang, Bali, Sumatera sudah ada orang. Sementara Bandung, Jakarta, Solo, Jogja terdapat 25 dokter sudah dilatih untuk menangani penyakit langka,” lanjutnya.

Selain itu dr Damayanti menegaskan bahwa penyakit langka sudah bisa didiagnosis sejak anak masih ada di dalam kandungan. Diagnosis tersebut diperoleh dari sampel darah yang diambil dari sang ibu.

“Dari dalam kandungan sudah bisa diprediksi. Sejak masa prenatal diagnosis bisa dikerjakan di kehamilan di atas usia 35 tahun. Sekarang sudah bisa dikerjakan dengan mengambil darah ibunya,” tutupnya.

(ndr)

Source link

author

Author: 

Leave a Reply