Kisah "Ladyjek", Perempuan Tangguh Tulang Punggung Keluarga



NURHAINI tampak sedang menepi di pinggir jalan untuk sejenak beristirahat usai mengantar penumpang ke kawasan Kasablanka, Jakarta Selatan. Setelah memarkirkan motor dan melepas jaket hijaunya, dia memesan segelas minuman untuk melepas dahaga.

Wanita berusia 41 tahun itu ialah salah satu wanita yang memilih bekerja sebagai driver ojek online atau biasa disebut “Ladyjek” pada salah satu perusahaan transportasi daring kenamaan. Pekerjaan yang identik digarap oleh kaum pria itu, sudah dilakoninya selama 1,4 tahun.

“Biasanya muter-muter aja untuk nyari penumpang,” kata Haini sapaan karibnya saat berbincang dengan Okezone, di pinggir Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu 27 Februari 2019.

Bukan tanpa alasan, Haini memilih pekerjaan yang akrab dengan aspal dan debu-debu jalanan karena harus menafkahi anaknya. Ia kini berstatus orangtua tunggal alias single parent yang memaksanya menjadi tulang punggung keluarga demi menyambung hidup.

Maklum saja, sang suami sudah meninggal dunia di penghujung tahun 2018 lalu. Mencari pundi-pundi rupiah seorang diri sudah dilakukannya sejak sang suami menderita penyakit stroke sejak 2017. Sebagai janda, dia tak bisa berdiam diri. Apalagi, dirinya masih memiliki tanggungan dua orang anak. Tentunya, biaya makan dan pendidikan harus tetap dipenuhi.

“Saya sudah jadi tulang punggung sejak 4 november 2017 lalu pas suami sakit stroke. Pembengkakan darah di belakang otak. Almarhum suami saya dulu kerja sebagai sopir angkot,” tutur perempuan berdarah batak itu.

Haini, driver ojol wanita di Jakarta

Haini mengaku awalnya dirinya minder ketika memutuskan untuk bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun, rasa malu itu sirna kala anak-anaknya justru memberikan dukungan total padanya.

“Awalnya kayak gini minder. Ternyata anak-anak kasih masukan, yang penting jalan lurus halal kan yang jalanin kita. Jadi, sekarang tidak, ya sudah cuek saja,” ucapnya sembari tersenyum.

Sehari-hari, Haini bisa mengaspal di hampir seluruh jalanan Jakarta. Tergantung, orderan pelanggannya. Sejurus, hasil kerjanya digunakan untuk biaya sekolah salah satu anaknya yang masih duduk di bangku SMA.

Sebagai “Ladyjek”, Haini biasa mengambil pesananan antar jemput penumpang, jasa beli makanan dan pengantaran paket. Dia bisa menghabiskan waktu dari pagi hingga malam hari untuk mengais rezeki sebagai pengendara ojek online.

“Ya namanya juga untuk menuhin biaya sehari-hari dan biaya anak sekolah, mau tak mau harus seperti ini,” kata dia sambil meneguk minuman di genggamannya.

Infografis Lipsus Ojol Perempuan

Dari hasil jeripayahnya itu, ia mendapat pemasukan yang bisa dibilang pas-pasan untuk biaya hidup di Kota Metropolitan. Jika, sedang ramai orderan, dia mengaku hanya meraup untung Rp100 ribu. Namun, bila sepi, sehari dia hanya mengumpulkan Rp60 ribu.

Untuk menjadi driver ojek online, wanita tangguh ini dan perusahaannya menggunakan sistem sharing profit. Dari pendapatannya, persentase bagi hasilnya sebesar 90 persen untuk driver dan 10 persen untuk penyedia layanan atau aplikasi. Kemudian, sistem bonus para driver menggunakan sistem insentif yang berkisar 30 persen.

“Cukup tidak cukup ya. Yang penting masih bisa menyekolahkan anak,” kata dia sembari menghela napas.

Selain berjuang menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Haini juga masih memiliki tanggungan cicilan sepeda motor. Ya, hanya “kuda besi” itulah yang menjadi sahabat setia Haini dalam mencari uang.

Setiap bulannya, dia harus membayar cicilan wajib senilai Rp750 ribu. Sadar punya kebutuhan yang lumayan banyak, wanita itu setiap harinya harus mengejar target agar mendapat bonus dari perusahannya.

Demi memenuhi semua itu, Haini dibantu anak sulungnya yang seorang perempuan. Gadis itu membuka toko keliling dengan menjual minuman ringan. Tujuannya untuk menambah penghasilan sehari-hari.

“Motor belum lunas tujuh bulan lagi. Ketutup ya, alhamdulillah, pintar-pintarnya kita simpan uang saja. Anak perempuan saya juga bantu dengan jual kopi sama es,” kata Haini.

Infografis Lipsus Ojol Perempuan

Meski ia lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan, Haini tak melalaikan perannya sebagai ibu dari sepasang anaknya. Sebelum berkelut dengan polusi, dia menyempatkan diri untuk memasak agar anak-anaknya bisa makan di rumah di saat dirinya pergi bekerja.

Perhatian dan kasih sayangnya tetap diberikan kepada dua buah hatinya sambil menunggu orderan pelanggan.

“Biasanya saya telefon anak-anak saya. Hanya sekadar buat pastiin mereka aman,” katanya di akhir cerita.


Source link

author

Author: 

Leave a Reply